
SUPERSEMAR NEWS — Dalam wawancara eksklusif bersama Dewan Pembina Supersemar News, Rifay Marzuki, Nasrudin Tueka selaku Ketua Dewan Penasehat HPSMI menegaskan bahwa pertanian merupakan struktur utama negara agraris dan tidak dapat diposisikan sebagai sektor pelengkap. Pada Triwulan III Tahun 2025, sektor ini memberikan kontribusi 14,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 28,15 persen tenaga kerja nasional, menjadikannya pilar kedua terbesar setelah industri manufaktur.
Namun demikian, Nasrudin menilai bahwa petani Indonesia belum mencapai level kesejahteraan yang layak. Mayoritas rumah tangga petani masih berada dalam kategori pekerja informal dengan pendapatan rata-rata Rp 2,54 juta hingga Rp 3,33 juta, jauh di bawah standar pendapatan layak nasional.
“Struktur ekonomi petani yang masih lemah harus menjadi fokus negara. Jika tidak diperbaiki secara sistemik, migrasi pekerja tani ke sektor industri dan jasa akan meningkat tajam,” tegas Nasrudin Tueka, (Jumat, 14 November 2025 )
Risiko Migrasi Tenaga Kerja Tani dan Ancaman Krisis Produksi
Menurut Nasrudin, kecenderungan migrasi pekerja tani disebabkan oleh ketidakpastian pendapatan dan akses ekonomi yang terbatas. Jika pola ini tidak dikendalikan, Indonesia berpotensi menghadapi penurunan signifikan produktivitas pertanian nasional, yang pada akhirnya meningkatkan ketergantungan terhadap impor pangan.
Kondisi tersebut diperkirakan akan memicu:
- penurunan produksi komoditas strategis,
- peningkatan pengangguran jika sektor industri dan jasa gagal menyerap migran tani,
- tekanan fiskal akibat impor bahan pangan,
- dan lonjakan angka kemiskinan pedesaan.
Nasrudin memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tegas, ketidakseimbangan antara migrasi tenaga kerja dan daya serap sektor non-pertanian dapat menciptakan krisis multidimensi, mulai dari pangan hingga stabilitas ekonomi.
Danantara Dorong Reformasi Investasi Pertanian 60% untuk Stabilitas Nasional
Sebagai respons strategis terhadap potensi krisis tersebut, Nasrudin menilai kebijakan investasi dari BPI–Danantara harus diarahkan dengan proporsi minimal 60 persen untuk sektor pertanian. Kebijakan ini, menurutnya, tidak hanya untuk memperluas lapangan kerja, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 80 persen, sehingga secara langsung mengurangi ketergantungan terhadap produk dan bahan baku impor.
“Reformasi investasi pertanian bukan lagi opsi, tetapi keharusan. Jika Danantara berjalan sesuai desain, Indonesia dapat menjaga stabilitas produksi dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Penguatan Desa Pertanian dan Perlindungan Lahan sebagai Fondasi Utama
Selanjutnya, Nasrudin menjelaskan bahwa keberhasilan kebijakan ini memerlukan perlindungan ketat terhadap lahan pertanian, terutama dari ancaman alih fungsi tanah yang terus meningkat. Desa harus kembali diposisikan sebagai sentra produksi dan ekonomi, bukan hanya sebagai kawasan permukiman.
Kebijakan tersebut mencakup:
- pemberlakuan perlindungan lahan pangan berkelanjutan,
- penguatan desa pertanian berbasis komoditas unggulan,
- pengembangan mekanisasi dan digitalisasi pertanian,
- serta pembangunan sistem logistik pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia menegaskan bahwa tanpa perlindungan lahan, strategi investasi sebesar apa pun tidak akan menghasilkan dampak jangka panjang.
Vokasi Teknologi, Literasi Petani, dan Akses Modal Perbankan Jadi Fondasi Reformasi
Untuk mempercepat modernisasi pertanian, Nasrudin menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petani melalui:
- program literasi teknologi,
- vokasi pertanian berbasis data dan presisi,
- serta akses pembiayaan perbankan melalui kebijakan afirmatif.
Selama ini, permodalan menjadi hambatan utama bagi petani dalam mengadopsi teknologi dan meningkatkan produktivitas. Ia menegaskan bahwa perbankan nasional harus memberikan ruang lebih luas bagi rumah tangga petani, termasuk melalui skema kredit berbunga rendah dan persyaratan yang disederhanakan.
“Teknologi pertanian modern tidak akan berjalan tanpa dukungan modal. Petani harus berada pada posisi yang mudah mengakses pembiayaan agar mampu bertransformasi,” kata Nasrudin.
Peta Jalan Pertumbuhan: Pertanian sebagai Lokomotif Ekonomi Baru
Dalam wawancara tersebut, Nasrudin menegaskan bahwa strategi Danantara merupakan peta jalan jangka panjang yang dirancang untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia. Dengan stabilitas pertanian, negara dapat mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi global sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Jika dijalankan dengan disiplin kebijakan, sektor pertanian diproyeksikan dapat menjadi:
- lokomotif pertumbuhan ekonomi baru,
- pusat penciptaan lapangan kerja terbesar,
- penyangga utama ketahanan pangan,
- serta penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan.
Ia menutup wawancara dengan pesan tegas bahwa pertanian bukan hanya sektor pekerjaan, tetapi penentu masa depan bangsa.
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
