SAMPIT, Supersemar News – Masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi. Kondisi air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang terasa payau membuat warga terpaksa membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari.
Bahkan, warga harus mengantre hingga berjam-jam di tempat pengisian air isi ulang yang sumber airnya tidak payau. Pasalnya, tidak semua tempat pengisian menggunakan sumber air yang aman dari intrusi air asin. Jika air bakunya berasal dari PDAM, air yang dihasilkan juga berpotensi terasa payau.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Umar Kaderi mengatakan, kondisi air payau perlu menjadi perhatian karena berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah Baamang dan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang).
“Kasus diare juga mengalami peningkatan di Baamang dan MB Ketapang. Ini mungkin ada kaitannya dengan air asin yang masuk ke sungai sehingga air menjadi payau,” ujarnya Rabu 14 Oktober 2026.
Ia menegaskan, air PDAM di wilayah tersebut untuk sementara hanya disarankan digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci, bukan untuk dikonsumsi.
“Kami menyarankan masyarakat menggunakan air isi ulang yang diproduksi dari sumber air di daerah bukit karena lebih aman untuk dikonsumsi. Sementara untuk mandi dan mencuci, air PDAM masih bisa digunakan,” jelasnya.
Menurut Umar, mengonsumsi air payau berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk diare. Selain itu, masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi juga perlu lebih berhati-hati.
Bagi penderita hipertensi, ia mengingatkan agar tetap berkonsultasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dan rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga medis untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Di tengah kondisi kekeringan dan kabut asap yang berkepanjangan, Umar berharap hujan segera turun agar intrusi air asin ke Sungai Mentaya, khususnya di wilayah Sampit, dapat berkurang.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut, menurutnya, pemerintah daerah perlu menyiapkan solusi untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi masyarakat. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan ialah memasok air dari wilayah Cempaga atau Kota Besi.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah daerah, khususnya PDAM, agar suplai air dari daerah Cempaka Mulia atau Kotabesi bisa masuk ke Sampit, terutama untuk kebutuhan minum,” katanya.
Selain itu, ia menyebut air isi ulang yang bersumber dari mata air di Cempaga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat. Berdasarkan pemeriksaan yang pernah dilakukan pihaknya, air tersebut memiliki pH sekitar 7,2.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kelayakan air minum tidak cukup ditentukan dari nilai pH saja, tetapi juga perlu dipastikan melalui pemeriksaan kualitas air secara menyeluruh.
Terkait pengawasan penggunaan air oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Umar menjelaskan bahwa pengawasan terhadap sektor tersebut menjadi kewenangan instansi terkait. Dinkes, kata dia, berfokus pada kesehatan masyarakat, termasuk keamanan air yang dikonsumsi dan dampak kesehatannya.
Ia pun mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan melalui pola makan dan tidur yang baik serta membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi kabut asap masih terjadi.













Komentar