Kotim, Supersemar News–
Hampir setiap hari tetanggaku meminta garam. Tadinya aku pikir untuk tambahannya memasak. Tapi ternyata alasannya membuatku nyesek.


“Assalamu’alaikum, Mba Nur.” Ku dengar suara Menik memanggil dari luar. Sementara aku sedang memasak di dapur, “Wa’alaikumsalam. Masuk, Nik,” sahut ku.

Menik, tetangga sebelah rumah yang juga hidup di perantauan, sama denganku. Hanya saja ia baru tiba seminggu yang lalu. “Maaf, Mba, mau ganggu sedikit,” katanya sungkan.

“Gak apa, Nik. Ada apa?” tanyaku sembari memasukkan telur ke penggorengan.

“Anu, Mba. Saya mau minta garam.”

“Ooh … Mau masak juga, ya?” ku ambil plastik ukuran seperempat bekas gula yang memang sengaja ku simpan. “Nih, lho, ambil aja.” Ku serahkan plastik itu padanya. “Garamnya di sana.” Sambil menunjuk wadah kecil di atas meja.

“Gak usah pakai plastik, Mba. Segini aja cukup.” Ia mengambil bumbu masakan itu seujung jari. “Makasih banyak, Mba.”

“Sama-sama.”

Ku lanjutkan memasak telur ceplok balado dan rebus sayur bayam untuk makan siang. Jangan sampai Mas Darman keburu pulang untuk istirahat. Mas Darman –suamiku– bekerja sebagai tukang bangunan. Dan kebetulan dapat proyek renovasi puskesmas di dekat rumah. Begitupun Joko suami Menik, menjadi kernet di tempat Mas Darman.

Profesi kuli bangunan yang gajinya seminggu sekali membuat kami para istri harus pintar-pintar membagi setiap post pengeluaran uang. Dan jika seperti sekarang, gajian baru dua hari lagi, dimana keuangan pun mulai menipis.

Setengah jam kemudian Mas Darman pulang. Setelah mencuci muka dan tangan, Mas Darman duduk bersila di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Ia terlihat lahap menyantap masakanku. Di sela-sela makan, ia bercerita perihal pekerjaannya hari ini dengan semangat.

“Sudah ceritanya, Mas. Nanti saja waktu pulang kerja biar lebih nyantai. Kebiasaan makan nyambi ngobrol. Keselek nanti,” kataku mengingatkan kebiasaan buruknya. Mas Darman nyengir. Pasti ia terbayang kejadian semalam siang. Waktu itu sangking menggebu-gebu nya bercerita, Mas Darman kesedak sampai susah bernapas.

Keesokannya Mirna, putri kecil Menik datang bersama adik lelakinya. “Ada perlu apa, Mba?” tanyaku sambil tersenyum. “Kata ibu minta garam sedikit, Bude.” Ia menjawab.

“Oh, ada. Ayo masuk, ikut Bude.” Kedua anak itu mengekoriku ke dapur. “Lagi masak enak, ya, Ibu di rumah?” tanyaku basa basi.

“I-iya, Bude,” jawab Mirna pelan.

“Nah, ini garamnya.” Ku beri lebih banyak dari biasa. Tak ku pikir mengapa hanya garam saja Menik tidak bisa beli. Mungkin ia kelupaan.

Di atas kompor aku sedang memasak ayam goreng. Ketika membalik potongan ayam , tanpa sengaja aku memergoki Deni — adik Mirna — sedang berbisik di telinga kakaknya. Meski samar, aku masih bisa mendengar ucapannya. “Enak itu, ya, Mba.” Sambil matanya tertuju pada penggorengan. Mirna menempelkan telunjuknya di bibir. Meminta adiknya untuk diam.

Ingin rasanya aku memberi, tapi potongan ayam tersebut belum matang. Biarlah setelah selesai nanti akan aku antar ke rumah mereka.

“Bude, kami permisi pulang dulu, ya ….”

“Oh iya. Ayo, bude antar ke depan.”

_ _

Ayam goreng telah masak. Ku salin ke dalam piring kaca sebelum menyimpan nya di atas meja makan. Seketika aku teringat dengan Deni. Nampaknya bocah tampan itu begitu berselera dengan menu tersebut.

Bergegas ku ambil piring kecil dan meletakkan dua potong paha ayam. Hanya dua memang, karena aku juga tidak memasak banyak. Seperti biasa, aku cuma memasak lima potong ayam. Karena belum ada anak, jadi di rumah ini hanya ada aku dan Mas Darman saja.

Ku yakin Mas Darman tidak akan marah jika jatah ayamnya berkurang. Untuk makan malam, aku akan memasakannya mie instan kuah saja.

Dengan cepat aku berjalan menuju rumah Menik. Jangan sampai keburu anak-anak itu makan siang.

Setibanya di rumah Menik, aku melihat pintu rumahnya tertutup rapat. Pasti Menik dan anaknya sedang berada di belakang. Di sana memang lebih sejuk karena ada pohon mangga besar yang menaungi.

Ku lanjutkan berjalan dari samping rumah. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan Menik dan anak-anaknya, “Buka mulutnya yang lebar, ya, Nak. Biar cepat habis selagi nasinya hangat. Nanti kalau dingin kurang enak,” ucap Menik. Ia pasti sedang menyuapi Mirna dan Deni.

“Bude Nur beneran masak ayam goreng, Bu. Pasti enak itu. Wanginya aja tadi sampai sini. Deni jadi kepingin,” celetuk Deni membuatku merasa bersalah. Aku menghentikan langkah, dan mencoba untuk tidak mengganggu obrolan mereka secara tiba-tiba.

“Sabar, ya, Nak. Nanti kalau bapak gajian, biar ibu masakan. Sekarang anak ganteng makan pakai ini dulu, ya ….” Menik membalas ungkapan anaknya dengan lemah lembut. Entah mengapa aku merasa ada getaran pada pengucapannya.

“Iya, Dek. Daripada kayak kemarin kita gak makan. Sakit perutnya, ‘kan?” timpal Mirna. “Begini juga enak,” tambahnya. Membuat rasa penasaran ku kian membuncah.

Dengan lancang, aku memutuskan diri untuk mengintip ke arah mereka. Perlahan ku rapatkan tubuh ke dinding papan rumah mereka, dan menyembulkan wajah sedikit agar dapat melihat. “Ya Allah, ampuni aku karena sudah lancang,” batinku.

Ketika itu dapatlah aku melihat dengan jelas apa yang terjadi. Menik yang duduk membelakangi ku sedang menyuapi anak-anaknya makan. Di tangannya ada piring kaleng berisi nasi putih. Ya, hanya nasi putih. Tapi tunggu! Setelah ku perhatikan ternyata di bagian satu sisi piring terdapat sejumput garam. Dan Menik mengambil nasi lalu memberi sedikit garam sebelum dibulat-bulatkannya kemudian memasukkan makanan itu ke dalam mulut sang buah hati.

“Astagfirullah ….” Seketika dadaku bergetar. Mata mengembun ingin segera ditumpahkan. Aku merasa begitu berdosa. Bagaimana mungkin aku memasak makanan enak dengan bau harum nya yang sampai ke penciuman orang lain. Sementara mereka makan tanpa lauk apapun. Sungguh berdosanya diri ini. Begitu tidak peka dengan keadaan tetangga terdekat ku sendiri.

Air mata hampir tak terbendung lagi. Tapi aku harus tetap memberikan ayam ini. Tak ingin rasa bersalah semakin kuat merajai. Baiklah, aku harus mengambil aba-aba terlebih dulu. Takutnya jika aku langsung me nyelonong masuk, Menik akan merasa malu.

Ku seka bulir bening dengan ujung jilbabku. Lalu mendehem agar Menik sadar akan kehadiranku. “Nik … Menik. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, Mba.” Terdengar suara piring yang beradu dengan lantai.

“Lagi pada di sini,” lanjut ku. Tak lagi terlihat piring berisi nasi tadi. Menik pasti sudah menyembunyikannya di balik pintu dapur.

“Iya, Mba. Lagi ngadem.” Menik tersenyum ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Mba?”

“Oh nggak. Ini lho, saya ada masak lebih. Buat Deni sama Mba Mirna saja, ya.” Ku sodorkan piring yang berisikan dua paha ayam tersebut.

“Ya Allah, merepotkan, Mba. Nanti Mba sama Mas Darman kekurangan, lho.” Ia belum juga menerima.

“Gak, Nik. Mba lupa kalau Mas Darman pulangnya sekalian sore. Jadi pasti kesisa ini. Sayang, ‘kan … Udah terima aja, ya. Pamali nolak rejeki.” Mata kedua anaknya berbinar penuh harap.

“Alhamdulillah, kalau begitu makasih banyak, Mba. Mudah-mudahan murah rejeki. Mba dan keluarga sehat selalu dan dilindungi Gusti Allah.” Menik tampak haru. Ya Allah, padahal ini hanya dua potong ayam goreng. Bukan sekarung beras apalagi emas berlian. Tapi rasa bersyukur mereka teramat dalam.

“Bilang terima kasih sama Bude, Nak,” pinta Menik kepada kedua anaknya. “Makasih, Bude ….” ucap mereka serentak.

“Iya, sama-sama. Kalau begitu Bude pamit pulang. Makan yang banyak, ya, Nak,” ucapku ingin segera berlalu, karena rasa sesak di dada kian bertambah.

Sepanjang jalan aku terus meminta ampun. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang, sementara terdapat tetanggaku yang tidur dalam perut kosong. Astaghfirullah ….


Sumber ; Facebook Nimacahtiti
Editor//Jokosw