Batu nisan khas bergaya Islam dengan ukiran kaligrafi Arab gundul di Situs Makam Raja-Raja Islam Garisul Jasinga memperkuat jejak sejarah abad ke-15.

SUPERSEMAR NEWS – Sebuah situs bersejarah yang terletak di Kampung Garisul, Desa Kolong Sawah, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menyimpan jejak kejayaan Islam pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Situs ini merupakan kompleks pemakaman kuno seluas kurang lebih 3.000 meter persegi yang menghadap ke arah barat.

Kompleks tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir para tokoh besar Islam, termasuk para panglima perang dan keturunan bangsawan dari Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Berdasarkan penelitian dan analisis bentuk makam serta ketinggian batu nisan, diketahui bahwa terdapat sembilan makam utama yang diyakini sebagai simbol kepemimpinan dan kebesaran masa lalu.

Salah satu tokoh penting yang dimakamkan di situs ini adalah Syekh Ishak, panglima dari Sultan Hasanudin Banten, beserta para istrinya, termasuk seorang putri raja dari Kerajaan Kediri. Batu nisan yang ada menunjukkan angka tahun 1021-1031 Hijriah, meski belum dapat dipastikan apakah merujuk pada kalender Hijriah, Saka Jawa, atau Saka Hindu.

Selain Syekh Ishak, nama-nama lain yang tercatat antara lain Syekh Ariffuddin, beberapa panglima pasukan Sultan Hasanudin, serta dua orang putri dari Kerajaan Demak dan Cirebon. Ciri khas batu nisan pada makam-makam ini adalah keseragaman jenis batu, motif, dan relief kaligrafi Arab gundul yang membentuk simbol segitiga atau kuba — lambang dari makam para prajurit.

Keberadaan situs ini juga terkait erat dengan masa-masa keruntuhan Kerajaan Pajajaran. Pada pertengahan abad ke-16, kekuasaan Pajajaran melemah di bawah pemerintahan Ratu Dewata (1543–1551), yang dikenal zalim dan menyebabkan kekacauan di dalam negeri. Ia kemudian digantikan oleh Prabu Nilahendara (1551–1567), yang dikenal lebih mencintai kesenangan duniawi ketimbang pemerintahan.

Kerajaan Pajajaran akhirnya berada di bawah kekuasaan Prabu Ramamulya Suryakencana (1567–1579), yang memindahkan pusat pemerintahan ke lereng Gunung Pulasari di daerah Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Namun, masa itu juga menjadi awal kehancuran Pajajaran akibat serangan besar-besaran dari pasukan gabungan Kesultanan Banten dan Cirebon yang dipimpin oleh Sultan Maulana Yusuf, bukan Sultan Hasanudin sebagaimana sering disebut keliru

Pertempuran besar pun terjadi di wilayah Jasinga hingga Pandeglang, yang menyebabkan banyak korban jiwa. Sejarah mencatat, inilah masa-masa penting dalam transisi kekuasaan dari Hindu-Buddha ke Islam di wilayah Jawa Barat.

Situs Makam Garisul kini menjadi bukti bisu kejayaan Islam dan perebutan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan besar di masa lampau. Keberadaannya penting untuk terus dijaga dan dikaji lebih lanjut demi melestarikan warisan sejarah bangsa.

SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
SanggaBuana